Kamis, 12 November 2015

Asta Tinggi Sumenep


Asta Tinggi adalah makam yang diperuntukkan khusus para Raja-Raja atau kerabat Raja yang terletak di daerah dataran tinggi Kebon Agung. Dalam bahasa Madura Asta Tinggi juga disebut Asta Raja yang bermakna makam para Pangradja (pembesar kerajaan) yang merupakan asta/makam para raja, anak keturunan beserta kerabat-kerabatnya yang dibangun sekitar tahun 1750 M.

Asta Tinggi memiliki 7 kawasan:
  1. Kawasan Asta Induk, terdiri dari: Kubah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Tirtinegoro (Bendoro Saod), Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Cikronegoro III (Pangeran Akhmad atau Pangeran Jimat) yang kubahnya tersebut berasal dari Pendopo Kraton Pangeran Lor/Wetan, Pangeran Pulang Djiwo yang kubahnya tersebut juga berasal dari Kraton Pangeran Lor/Wetan, Pemakaman istri-istri serta selir raja-raja Sumenep.
  2. Kawasan Makam Ki Sawunggaling konon diceritakan bahwa K. Saonggaling adalah pembela Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) pada saat terjadinya upaya kudeta/perebutan kekuasaan oleh Patih Purwonegoro.
  3. Kawasan Makam Patih Mangun.
  4. Kawasan Makam Kanjeng Kai/Raden Adipati Suroadimenggolo Bupati Semarang (mertua Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I).
  5. Kawasan Makam Raden Adipati Pringgoloyo/Moh. Saleh, dimana dia tersebut pada masa hidupnya menjabat sebagai Patih pada pemerintahan Panembahan Somala dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.
  6. Kawasan Makam Raden Tjakra Sudibyo, Patih Pensiun Sumenep.
  7. Kawasan Makam Raden Wongsokoesumo.
Arsitektur Makam

Arsitektur makam dalam kompleks ini sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan yang berkembang pada masa Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari penataan kompleks makam dan beberapa batu nisan yang cenderun berkembang pada masa awal Islam berkembang di tanah Jawa dan Madura. Selain itu pengaruh-pengaruh dari kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro, makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan makam Pangeran Pulang Djiwo.

Selain itu pengaruh arsitektur Eropa mendominasi bangunan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan makam Patih Mangun yang ada di luar asta induk. Dalam kawasan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, seluruh bangunannya dipengaruhi gaya arsitektur klasik, kolom-kolom ionic masih dipakai dibeberapa tempaqt termasuk juga pada kubah makamnya.

Gambar Keadaan Asta Tinggi






Tidak ada komentar:

Posting Komentar