Minggu, 15 November 2015
Tradisi Pelet Kandung di Sumenep Madura
Sebagai kelompok masyarakat yang dikenal agamis, orang Madura suka mengadakan acara selamatan untuk keluarganya yang sedang hamil. Dalam selamatan tersebut diisi dengan kegiatan mengaji Al-Qur'an dan do'a keselamatan untuk ibu dan si janin. Mungkin saja orang di luar melakukan hal yang sama, namun tradisinya pasti berbeda.
Disebagian daerah di Madura, acara selamatan untuk ibu hamil dilakukan sebanyak dua kali. Pertama saat kandungan mencapai 3 bulan 10 hari, dan kedua ketika kehamilan si ibu memasuki 7 bulan. Mengapa dilakukan sebanyak dua kali? Karena ketika berusia 3 bulan 10 hari, jabang bayi di rahim ibu masih akan membentuk organ-organ tubuh manusia seperti tangan, telinga, kepala dan lain sebagainya meski belum terbentuk secara sempurna.
Pada saat itu orang Madura akan mengundang tetangga untuk acara selamatan dalam rangka mengaji ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur'an dan mendoakan keselamatan untuk si janin. Ayat-ayat yang dibaca biasanya surat Yusuf, Maryam, Muhammad, Luqman dan lain-lain.
Lalu, ketika memasuki 7 bulan tepatnya pada tanggal 14 bulan Hijriyah, orang Madura akan melakukan ritual pelet kandung. Dilakukan pada tanggal 14, dimaksudkan agar si janin sempurna seperti bulan purnama. Pelet kandung dilakukan saat kehamilan pertama. Pelet kandung diyakini masyarakat memiliki makna agar proses kelahiran si janin tidak mengalami banyak hambatan, menjadi anak yang shaleh/shalehah dan sempurna secara fisik maupun mental.
Dalam tradisi ini, ibu hamil akan melalui berbagai prosesi dan ritual. Awalnya, ia dipijat oleh dukun beranak. Bersamaan dengan itu, di luar ada banyak undangan tetangga yang mengaji Al-Quran untuk keselamatan si janin. Di hadapan kiyai yang memandu pengajian, ada semangkok air kembang, kelapa gading, nasi, kuah, dan berbagai macam kue yang diletakkan di atas talam. Setelah selesai dipijat, ibu hamil akan keluar rumah dan duduk di kursi untuk disirami air kembang 7 rupa oleh keluarga dan orang-orang yang hadir. Air tersebut adalah air kembang yang tadi dibacakan ayat Al-Quran ditambah dengan satu ember air.
Saat disirami air, si ibu akan mengelus-elus kelapa gading sambil memegang telur yang diletakkan di bawah kelapa. Kelapa tersebut diibaratkan sebagai calon bayi yang kelak akan lahir. Mengelus-elusnya menunjukkan bahwa si ibu sangat menyayangi sang anak. Bersamaan dengan itu, terdapat ayam kampung yang diikat pada kaki ibu. Setelah selesai disiram, telur yang dipegang tadi kemudian dijatuhkan ke tanah atau ditangkap keluarga yang belum memiliki keturunan.
Begitulah prosesi pelet kandung yang masih melekat dalam tradisi masyarakat Madura hingga saat ini. Semua itu diyakini agar proses persalinan ibu yang hamil menjadi mudah dan selamat.
Pantai Slopeng di Sumenep
Pantai Slopeng merupakan salah satu pantai utara di Sumenep selain pantai Lombang. Pantai ini terletak di kecamatan Dasuk, 21 km dari pusat kota Sumenep. Pantai ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu hamparan pasirnya yang cukup menggunung berhias pohon siwalan, pohon kelapa dan juga cemara udang, sehingga para wisatawan dapat menikmati keindahan laut pantai utara Madura ini dari bukit-bukit yang tergolong landai.
Pantai Slopeng memiliki hamparan pasir yang membentang sepanjang 6 km. Pasir-pasir tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk bersantai di tepian pantai. Uniknya, tidak hanya hamparan pasir putih, tetapi pasir putih di pantainya menggunung. Anda bisa bermain pasir sepuasnya di sini.
Suasana tenang dan nyaman akan anda dapatkan. Dengan lambaian pohon-pohon kelapa, nuansa pantai yang khas sangat terasa. Puas bersantai, saatnya bermain air. Air laut di pantai slopeng berwarna jernih dan bersih. arus lautnya pun cukup tenang, jadi tak perlu takut diterpa arus yang kuat. Anda dapat menikmati lautan yang biru dengan pemandangan langit yang luas. Dengan tenangnya suasana, anda akan betah berlama-lama menikmati pantainya.
Pesona pantai Slopeng akan bertambah saat senja tiba. Ada sunset yang berwarna keemasan menyirami hamparan pasir putihnya. Bayangan anda akan terlihat jelas saat berdiri di pantainya dengan disinari cahaya sang senja yang tenggelam. Pemandangan ini harus diabadikan dalam kamera.
Taman Adipura Sumenep
Jika anda berkunjung ke Kota Sumenep, pastikan tidak melewatkan kesempatan menyambangi Taman Adipura. Selain sebagai ikon kabupaten paling Timur di Madura, taman ini juga mudah dikunjungi karena berada di jantung Kota Sumenep.
Tiap hari di tempat ini selalu ramai pengunjung. Keberadaannya di pusat kota menjadi tempat yang pas untuk melepaskan lelah dari hiruk-pikuk kota. Ia menjadi taman rekreasi dengan konsep ruang terbuka hijau. Banyak pohon rindang yang akan menyegarkan suasana. Di situ juga tersedia kursi taman yang bisa dijadikan tempat bercengkerama bersama orang terdekat.
![]() |
| Air mancur yang berada di tengah-tengan taman |
Taman Adipura akan terlihat lebih semarak saat malam menjelang, terutama malam minggu. pada malam-malam tersebut banyak pengunjung yang menikmati indahnya pemandangan lampu yang menghiasi taman, juga permainan yang disediakan. Bagi anda yang membawa anak kecil, di situ banyak disediakan arena permainan, semisal odong-odong, sepeda motor mungil dan lain-lain. Tinggal membayar sejumlah uang, anak-anak anda sudah bisa menikmati permainan tersebut.
Bagi penyuka kuliner jangan khawatir,di situ banyak sekali orang jualan. Ada rujak, jagung rebus, es buah, es kacang hijau, soto, campor dan banyak lagi. Stand pedagang kaki lima ini mengelilingi tepi Taman Adipura.
Akses untuk sampai ke tempat tersebut sangt mudah. Jika dari terminal Bus Arya Wiraraja, arahnya ke utara. Kalau menggunakan kendaraan pribadidan bergerak dari arah Pamekasan, ikuti saja jalan kabupaten tanpa harus ke terminal dulu. Nanti akan terlihat taman tersebut. Jika khawatir kesasar, anda bisa menggunakan GPS.
Karapan Sapi di Sumenep
Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura Jawa timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar 10 detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden. Di bulan November tahun 2013, penyelenggaraan Piala Presiden berganti nama menjadi Piala Gubernur.
Awal mula karapan sapi dilatarbelakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sabagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan matapencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah dan ladang.
Suatu ketika seorang ualam Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (pangeran KJatandur) yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal dengan masyarakat Madura dengan sebutan "nanggala" atau "salaga" yang ditarik oleh 2 ekor sapi. maksud awal diadakannya karapan sapi adalah untuk memperoleh sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah. Orang Madura memelihara sapi dan menggarapnya di sawah-sawah mereka sesegera mungkin. Gagasan ini kemudian menimbulkan adanya tradisi karapan sapi. Karapan sapi sesegera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya kususnya setelah menjelang musim panen habis. Karapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen.
Pelaksanaan karapan sapi dibagi menjadi 4 babak, yaitu: babak pertama, seluruh sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Pada babak ini semua sapi yang menang maupun yang kalah dapat bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya.
Babak kedua atau babak pemilihan kembali, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali, demikian sama halnya dengan sapi-sapi dikelompok kalah, dan pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang menempati kemenangan urutan teratas di masing-masing kelompok.
babak ketiga atau semi final, pada babak ini masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kolompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan untuk menentukan I, II dan III dari kelompok kalah.
Masjid Agung Sumenep
Masjid Agung Sumenep adalah masjid yang berada di Sumenep Madura. Berdiri menghadap alun-alun kota Sumenep yang dulunya disebut masjid Jamik yang menjadi penanda kota Sumenep. Masjid Jamik Panembahan Somala atau lebih dikenal dengan sebutan masjid Jamik Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid Jamik Sumenep saat ini telah menjadi salah satu landmark di Pulau Madura. dibangun pada pemerintahan Panembahan Somala, penguasa negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango.
Menurut catatan sejarah Sumenep, pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan pendukung Karaton, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga Karaton dan masyarakat. Masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun oleh keluarga karaton, dimana sebelumnya kompleks masjid berada tepat di belakang karaton yang lebih dikenal dengan nama Masjid Laju yang dibangun oleh Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI.
Arsitektur bangunan masjid sendiri secara garis besar banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa dan Madura. Salah satunya pada pintu gerbang pintu masuk utama yang corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan Tiongkok. Untuk bangunan utama masjid secara keseluruhan terpengaruh budaya Jawa pada bagian atapnya dan budaya Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid. Sedangkan interior masjid lebih cenderung bernuansa kebuayaan Tiongkok pada bagian mihrab.
Masjid ini juga dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya terpengaruh kebudayaan Portugis, minaretnya memiliki tinggi 50 meter terdapat disebelah barat masjid, dibangun pada pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma. Di kanan dan kiri pagar utama yang masih juga terdapat bangunan berbentuk kubah. Pada masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Aria Prabuwinata pagar utama yang cenderung masif dan tertutup, dimana semula dimaksudkan untuk menjaga ketenangan jema'ah dalam menjalankan ibadah diubah total berganti pagar besi
Untuk halaman masjidnya sendiri terdapat pohon sawo (bahasa Madura: Sabu) dan juga pohon tanjung. Dimana kedua pohon tersebut konon merupakan penghias utama halaman masjid karena dipercaya mempunyai filosofi sebagai berikut:
- Sabu adalah penyatuan kata sa dan bu, sa mempunyai maksud shalat dan bu mempunyai maksud ja' bu-ambu
- Tanjung adalah penyatuan kata ta dan jung, ta mempunyai maksud tandha dan jung mempunyai maksud ajhunjhung
- Dan masjid sendiri bermakna pusat kegiatan dalam mensyiarakan agama Islam
jadi apabila dijabarkan kesemuanya mengandung maksud dan harapan sebagai berikut:
Shalat jhak bu-ambu. tandha ajhunjhung tenggi kegiatan agama Allah. Artinya: Shalat lima waktu janganlah ditinggalkan, sebagai tanda menjunjung tinggi agama Islam.
Kamis, 12 November 2015
Asta Tinggi Sumenep
Asta Tinggi adalah makam yang diperuntukkan khusus para Raja-Raja atau kerabat Raja yang terletak di daerah dataran tinggi Kebon Agung. Dalam bahasa Madura Asta Tinggi juga disebut Asta Raja yang bermakna makam para Pangradja (pembesar kerajaan) yang merupakan asta/makam para raja, anak keturunan beserta kerabat-kerabatnya yang dibangun sekitar tahun 1750 M.
Asta Tinggi memiliki 7 kawasan:
- Kawasan Asta Induk, terdiri dari: Kubah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Tirtinegoro (Bendoro Saod), Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Cikronegoro III (Pangeran Akhmad atau Pangeran Jimat) yang kubahnya tersebut berasal dari Pendopo Kraton Pangeran Lor/Wetan, Pangeran Pulang Djiwo yang kubahnya tersebut juga berasal dari Kraton Pangeran Lor/Wetan, Pemakaman istri-istri serta selir raja-raja Sumenep.
- Kawasan Makam Ki Sawunggaling konon diceritakan bahwa K. Saonggaling adalah pembela Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) pada saat terjadinya upaya kudeta/perebutan kekuasaan oleh Patih Purwonegoro.
- Kawasan Makam Patih Mangun.
- Kawasan Makam Kanjeng Kai/Raden Adipati Suroadimenggolo Bupati Semarang (mertua Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I).
- Kawasan Makam Raden Adipati Pringgoloyo/Moh. Saleh, dimana dia tersebut pada masa hidupnya menjabat sebagai Patih pada pemerintahan Panembahan Somala dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.
- Kawasan Makam Raden Tjakra Sudibyo, Patih Pensiun Sumenep.
- Kawasan Makam Raden Wongsokoesumo.
Arsitektur Makam
Arsitektur makam dalam kompleks ini sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan yang berkembang pada masa Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari penataan kompleks makam dan beberapa batu nisan yang cenderun berkembang pada masa awal Islam berkembang di tanah Jawa dan Madura. Selain itu pengaruh-pengaruh dari kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro, makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan makam Pangeran Pulang Djiwo.
Selain itu pengaruh arsitektur Eropa mendominasi bangunan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan makam Patih Mangun yang ada di luar asta induk. Dalam kawasan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, seluruh bangunannya dipengaruhi gaya arsitektur klasik, kolom-kolom ionic masih dipakai dibeberapa tempaqt termasuk juga pada kubah makamnya.
Gambar Keadaan Asta Tinggi
Senin, 09 November 2015
Tambak Garam di Sumenep
Di Sumenep Madura terkenal dengan pulau garam karena sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani garam. Salah satunya yang ada di kota Sumenep tepatnya yaitu Desa Pinggir Papas. Jika kalian pergi ke pinggir papas kalian akan disuguhi kanan kiri dengan bentangan tambak garam yang sangat luas seperti layaknya salju hehe. berikut ini gambar keadaan desa Pinggir Papas di Sumenep






Museum Keraton di Sumenep Madura
Keraton Sumenep adalah tempat kediaman resmi para Adipati/Raja-Raja selain sebagai tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Kerajaan Sumenep sendiri bisa dibilang sifatnya sebagai kerajaan kecil (setingkat kadipaten) kala itu, sebab sebelum wilayah Sumenep dikuasai VOC wilayah Sumenep sendiri masih harus membayar upeti kepada kerajaan-kerajaan besar (Singhasari, Majapahit, dan Kasultanan Mataram).
Keraton Sumenep sejatinya banyal jumlahnya, selain sebagai kediaman resmi adipati/raja yang berkuasa saat itu. Keraton juga difungsikan sebagai tempat untuk mengatur segala urusan pemerintah kerajaan. Saat ini bangunan Karaton yang masih tersisa dan utuh adalah bangunan Karaton yang dibangun oleh Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod) beserta keturunannya yakni Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat dan Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raden Ario Notonegoro). Sedangkan untuk bangunan karaton-karaton milik Adipati/Raja yang lainnya seperti Karaton Pangeran Siding Puri di Parsanga, Karaton Tumenggung Kanduruan, Karaton Pangeran Lor dan Pangeran Wetan di Karangduak hanya tinggal sisa puing bangunannya saja yakni hanya berupa pintu gerbang dan umpak pondasi bangunan Keraton.
Istilah penyebutan Keraton apabila dikaitkan dengan sistem pemerintahan di Jawa saat ini, merasa kurang tepat karena Kerfatan Sumenep memiliki strata tingkatan yang lebih kecin dari bangunan keraton yang ada di Jogjakarta dan Surakarta. Karaton Sumenep sebenarnya adalah bangunan kediaman keadipatian yang pola penatan bangunannya lebih sederhana daripada keraton-keraton besar seperti Jogjakarta dan Surakarta. Namun perlu dimaklumi bahwa penggunaan penyebutan istilah karaton sudah berlangsung sejak dulu kala oleh masyarakat Madura, karena kondisi geografis Sumenep yang berada di Daerah mancanegara (wilayah pesisir wetan) yang jauh dari kerajaan Mataram. Begitu juga penyebutan Penguasa Kadipaten yang lebih familiar dikalangan masyarakatnya dengan sebutan "Rato/Raja".
Berikut gambar keadaan di museum keraton Sumenep
Pantai Lombang Sumenep Madura

Pantai Lombang adalah salah satu pantai yang terletak di kabupaten Sumenep, Madura. Pantai ini tepatnya terletak di sebelah timur Sumenep, kira-kira 25 km dari kota Sumenep tepatnya di Kecamatan Batang-Batang. Pantai Lombang merupakan salah satu wisata alam unggulan di bumi Sumekar. di pantai ini, selain deburan ombak yang cukup tenang dan pasir putih yang sangat halus, para pengunjung juga akan disuguhi dengan rimbunnya pohon cemara udang yang berjajar mengikuti garis bibir pantai. Biaya karcis untuk memasuki pantai ini adalah Rp. 5000,- per orang.
Cemara udang adalah endemi tumbuhan khas dari pantai ini. Konon sebagian besar masyarakat tumbuhan ini hanya tumbuh di Pantai Lombang dan beberapa pantai di perairan laut Tiongkok. Sejarah penyebaran pohon cemara udang di wilayah perairan Sumenep erat kaitannya dengan ekspedisi besar kekaisaran negeri Tiongkok dalam mengarungi perairan nusantara pada abad 15 yang dipimpin oleh Jendral The Ho (Sampo Thai Kam), Jendral Ma'huan dan Jendral Ong Keng Hong. Ketiganya juga dikenal dengan sebutan SAM PO TOA LANG yang artinya Tiga Pendekar Besar dan dalam logat jawa kuno dikenal dengan nama Dempo Awang.
Muhibah tersebut membawa kapal sebanyak 62 armada, dengan pasukan perang 27.800 orang. Konon muhibah besar itu merupakan suatu pelayaran terbesar kala itu. Bila berlayar seakan menutup keluasan lautan yang dilewatinya, banyak para negara tetangga yang merasa takjub dan khawatir. Kelihatannya memang seolah Kaisar daratan China memamerkan kekuatannya pada negeri-negeri tetangga dan menunjukkan bahwa dirinya sebagai negara super power, adigang adigung adiguno, seolah tidak ada negara lain yang bisa melindunginya.
Tapi sesampainya di laut Jawa, salah satu kapal induk membentur batu karang sampai hancur, dengan kejadian tersebut Jendral Ong Keng Hong selaku jurumudi utama meninggal dunia. Kemudian semua armada dirapatkan ke pantai, maka tempat merapatnya kapal-kapal armada tersebut diabadikan dengan nama Mangkang yang artinya wangkanya kqapal. Letaknya sekitar 10 km di sebelah barat kota Semarang. Karena Ong Keng Hong pemeluk agama Islam, maka dikuburkan secara islam di daerah Gedongwatu.
Setelah selesai upacara penguburan lalu pelayaran muhibah besar tersebut dilanjutkan menuju ke pusat kerajaan Majapahit. Tapi rupanya kemalangan masih tetap mengikuti mereka. Kapal-kapal terbawa arus ke arah timur dan dilanda angin topan disekitar perairan Masalembu, maka sebagian banyak yang tenggelam, juga banyak yang hancur serta perlengkapannya banyak yang terdampar di pantai sekitar pulau Jawa dan Madura, seperti halnya: jangkarnya ada di Pati, piringnya ditemukan di pantai Kamal yang kemudian diabadikan dengan nama Ujung Piring, tiangnya ditemukan di perairan masuk kabupaten Sumenep, itiknya banyak beterbangan di selat Kamal, maka bilamana kita naik perahu layar akan terdengar sayup-sayup suara itik mengalun.
Dari kisah di atas bisa dipastikan bahwa tumbuhan "Cemara Udang" yang ada di perairan utara Kabupaten Sumenep merupakan hasil dari sisa-sisa bawaan prajurit-prajurit yang terdampar di perairan Sumenep ketika dalam perjalanan ekspedisi muhibah tersebut.
Akomodasi dan Fasilitas
Wisatawan yang ingin bermalam di pantai ini dapat mendirikan tenda di tepi pantai, sebab belum tersedia hotel di sekitar pantai ini. Fasilitas penginapan yang ada yaitu pondok-pondok alami dari kayu, biasanya hanya diperuntukkan bagi peserta paket wisata agen perjalanan tertentu. Apabila terpaksa harus menginap, wisatawan dapat memperoleh jasa hotel di kota Sumenep.
Di pantai ini telah tersedia kamar bilas bagi para pengunjung untuk membersihkan badan sehabis bermain pasir atau berenang. Jika ingin duduk-duduk santai, wisatawan dapat memanfaatkan beberapa tempat duduk atau warung-warung kecil di pinggir pantai yang menjual "es degan" (kelapa muda) serta rujak lontong (rujak Madura). Di tengan teriknya matahari, rujak lontong yang lezat serta segarnya es degan sangat cocok untuk dinikmati.
Gambar untuk Pantai Lombang




Bagaimana? Indah bukan? Ada yang tertarik untuk mengunjunginya? ^^
Keindahan Tersembunyi Pulau Gili Labak
Gili Labak adalah pulau kecil yang mempunyai pasir putih, biru laut dan desiran ombak yang tenang. Ternyata yang mempunyai Gili bukan hanya Lombok, di Provinsi Jawa Timur tepatnya di kabupaten Sumenep, Madura mempunyai beberapa Gili, salah satunya adalah Gili Labak. Pulau yang berada di ujung timur pulau Madura dan tempat wisata di Jawa Timur ini belum banyak orang yang mengetahuinya sehingga pulau ini jarang dikunjungi oleh para wisatawan.
Sedikit para wisatawan yang tahu kalau Sumenep Madura memiliki pulau cantik nan jelita. Pulau ini dulunya adalah pulau tikus, karena dulunya tempat ini adalah sarang tikus. Karena pulau ini melebihi nama aslinya (pulau tikus), pulau ini diganti namanya menjadi Pulau Gili Labak, yang lebih enak disebut dengan dialek bahasa Madura.
Adapun pulau ini terletak di Kecamatan Talango. Kabupaten Sumenep. Tepatnya di sebelah timur Poteran, atau tenggara jika dilihat dari kota Sumenep. Karena letaknya yang berada disebelah tenggara inilah menyebabkan rute menuju pulau ini banyak. Seperti yang diketahui, di pantai sebelah timur Sumenep terdapat banyak pelabuhan kecil. Sehingga pengunjung lebih mudah memilih rute mana yang akan dijalani.
salah satu rute yang sering diambil para pengunjung untuk menuju pulau ini adalah melalui Pelabuahan Kalianget. Karena letaknya juga yang strategis memudahkan pengunjung untuk melewati rute ini. Adapun rute ini jika pengunjung berangkat dari jantung kota sumenep silahkan ke arah timur kurang lebih 10 km. Sesampainya di pelabuhan, pengunjung cukup mencari perahu dan menyewanya untuk berlayar ke pulau Gili Labak. Akan tetapi saat ini banyak jasa tour yang menyiapkan perahu serta mengantarkan pengunjung hingga ke tempat tujuan.
Obyek Wisata Pulau Gili Labak
Bentangan pasir putih dan lautan biru dengan ombak yang landai menjadikan Plau Gili Labak yang sangat layak untuk dikunjungi. Pasir putih Gili Labak Sumenep sekitar 50 m sebelum berlabuh di bibir pantai akan disambut dengan beningnya air laut membuat anda bisa menikmati gugusan terumbu karang yang sangat indah. Gili Labak menjadi salah satu tempat favorit bagi yang hobi snorkling ataupun diving karena gili Labak mempunyai titik-titik terumbu karang dan biota laut yang cukup beragam. Tetapi untuk menikmati hobi snorkling tersebut disarankan untuk membawa sendiri alatnya, karena di sana belum ada yang menyewakan alat tersebut.
Gili Labak yang dahulunya orang menyebutnya dengan Pulau Tikus mempunyai luas sekitar 5 hektar dan dapat dikelilingi dengan berjalan kaki sekiatar 30 menit ini dihuni sekitar 35 kepala keluarga. Untuk menunjang fasilitas di gili Labak masih tergolong kurang. Seperti keterbatasan air bersih yang memang belum ada sumber air tawar di pulau tersebut, listrik yang hanya menyala di malam hari, belum adanya penginapan ataupun warung makanan. Jadi kalau menginginkan menginap, anda bisa menginap di rumah warga atau mendirikan tenda di pinggir pantai dan bawalah kebutuhan makanan selama berada di pulau Gili Labak.
Foto Wisata Gili Labak Sumenep Madura
Indah bukan? Apa ada yang tertarik untuk mengunjungi pulau cantik ini? ^^
Langganan:
Komentar (Atom)
























