Minggu, 15 November 2015

Tradisi Pelet Kandung di Sumenep Madura



Sebagai kelompok masyarakat yang dikenal agamis, orang Madura suka mengadakan acara selamatan untuk keluarganya yang sedang hamil. Dalam selamatan tersebut diisi dengan kegiatan mengaji Al-Qur'an dan do'a keselamatan untuk ibu dan si janin. Mungkin saja orang di luar melakukan hal yang sama, namun tradisinya pasti berbeda.

Disebagian daerah di Madura, acara selamatan untuk ibu hamil dilakukan sebanyak dua kali. Pertama saat kandungan mencapai 3 bulan 10 hari, dan kedua ketika kehamilan si ibu memasuki 7 bulan. Mengapa dilakukan sebanyak dua kali? Karena ketika berusia 3 bulan 10 hari, jabang bayi di rahim ibu masih akan membentuk organ-organ tubuh manusia seperti tangan, telinga, kepala dan lain sebagainya meski belum terbentuk secara sempurna.

Pada saat itu orang Madura akan mengundang tetangga untuk acara selamatan dalam rangka mengaji ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur'an dan mendoakan keselamatan untuk si janin. Ayat-ayat yang dibaca biasanya surat Yusuf, Maryam, Muhammad, Luqman dan lain-lain.

Lalu, ketika memasuki 7 bulan tepatnya pada tanggal 14 bulan Hijriyah, orang Madura akan melakukan ritual pelet kandung. Dilakukan pada tanggal 14, dimaksudkan agar si janin sempurna seperti bulan purnama. Pelet kandung dilakukan saat kehamilan pertama. Pelet kandung diyakini masyarakat memiliki makna agar proses kelahiran si janin tidak mengalami banyak hambatan, menjadi anak yang shaleh/shalehah dan sempurna secara fisik maupun mental.

Dalam tradisi ini, ibu hamil akan melalui berbagai prosesi dan ritual. Awalnya, ia dipijat oleh dukun beranak. Bersamaan dengan itu, di luar ada banyak undangan tetangga yang mengaji Al-Quran untuk keselamatan si janin. Di hadapan kiyai yang memandu pengajian, ada semangkok air kembang, kelapa gading, nasi, kuah, dan berbagai macam kue yang diletakkan di atas talam. Setelah selesai dipijat, ibu hamil akan keluar rumah dan duduk di kursi untuk disirami air kembang 7 rupa oleh keluarga dan orang-orang yang hadir. Air tersebut adalah air kembang yang tadi dibacakan ayat Al-Quran ditambah dengan satu ember air.

Saat disirami air, si ibu akan mengelus-elus kelapa gading sambil memegang telur yang diletakkan di bawah kelapa. Kelapa tersebut diibaratkan sebagai calon bayi yang kelak akan lahir. Mengelus-elusnya menunjukkan bahwa si ibu sangat menyayangi sang anak. Bersamaan dengan itu, terdapat ayam kampung yang diikat pada kaki ibu. Setelah selesai disiram, telur yang dipegang tadi kemudian dijatuhkan ke tanah atau ditangkap keluarga yang belum memiliki keturunan.

Begitulah prosesi pelet kandung yang masih melekat dalam tradisi masyarakat Madura hingga saat ini. Semua itu diyakini agar proses persalinan ibu yang hamil menjadi mudah dan selamat.

Pantai Slopeng di Sumenep



Pantai Slopeng merupakan salah satu pantai utara di Sumenep selain pantai Lombang. Pantai ini terletak di kecamatan Dasuk, 21 km dari pusat kota Sumenep. Pantai ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu hamparan pasirnya yang cukup menggunung berhias pohon siwalan, pohon kelapa dan juga cemara udang, sehingga para wisatawan dapat menikmati keindahan laut pantai utara Madura ini dari bukit-bukit yang tergolong landai.

Pantai Slopeng memiliki hamparan pasir yang membentang sepanjang 6 km. Pasir-pasir tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk bersantai di tepian pantai. Uniknya, tidak hanya hamparan pasir putih, tetapi pasir putih di pantainya menggunung. Anda bisa bermain pasir sepuasnya di sini.



Suasana tenang dan nyaman akan anda dapatkan. Dengan lambaian pohon-pohon kelapa, nuansa pantai yang khas sangat terasa. Puas bersantai, saatnya bermain air. Air laut di pantai slopeng berwarna jernih dan bersih. arus lautnya pun cukup tenang, jadi tak perlu takut diterpa arus yang kuat. Anda dapat menikmati lautan yang biru dengan pemandangan langit yang luas. Dengan tenangnya suasana, anda akan betah berlama-lama menikmati pantainya.

Pesona pantai Slopeng akan bertambah saat senja tiba. Ada sunset yang berwarna keemasan menyirami hamparan pasir putihnya. Bayangan anda akan terlihat jelas saat berdiri di pantainya dengan disinari cahaya sang senja yang tenggelam. Pemandangan ini harus diabadikan dalam kamera.


Taman Adipura Sumenep



Jika anda berkunjung ke Kota Sumenep, pastikan tidak melewatkan kesempatan menyambangi Taman Adipura. Selain sebagai ikon kabupaten paling Timur di Madura, taman ini juga mudah dikunjungi karena berada di jantung Kota Sumenep.

Tiap hari di tempat ini selalu ramai pengunjung. Keberadaannya di pusat kota menjadi tempat yang pas untuk melepaskan lelah dari hiruk-pikuk kota. Ia menjadi taman rekreasi dengan konsep ruang terbuka hijau. Banyak pohon rindang yang akan menyegarkan suasana. Di situ juga tersedia kursi taman yang bisa dijadikan tempat bercengkerama bersama orang terdekat.

Air mancur yang berada di tengah-tengan taman

Taman Adipura akan terlihat lebih semarak saat malam menjelang, terutama malam minggu. pada malam-malam tersebut banyak pengunjung yang menikmati indahnya pemandangan lampu yang menghiasi taman, juga permainan yang disediakan. Bagi anda yang membawa anak kecil, di situ banyak disediakan arena permainan, semisal odong-odong, sepeda motor mungil dan lain-lain. Tinggal membayar sejumlah uang, anak-anak anda sudah bisa menikmati permainan tersebut.

Bagi penyuka kuliner jangan khawatir,di situ banyak sekali orang jualan. Ada rujak, jagung rebus, es buah, es kacang hijau, soto, campor dan banyak lagi. Stand pedagang kaki lima ini mengelilingi tepi Taman Adipura.

Akses untuk sampai ke tempat tersebut sangt mudah. Jika dari terminal Bus Arya Wiraraja, arahnya ke utara. Kalau menggunakan kendaraan pribadidan bergerak dari arah Pamekasan, ikuti saja jalan kabupaten tanpa harus ke terminal dulu. Nanti akan terlihat taman tersebut. Jika khawatir kesasar, anda bisa menggunakan GPS.

Karapan Sapi di Sumenep



Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura Jawa timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar 10 detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden. Di bulan November tahun 2013, penyelenggaraan Piala Presiden berganti nama menjadi Piala Gubernur.

Awal mula karapan sapi dilatarbelakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sabagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan matapencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah dan ladang.

Suatu ketika seorang ualam Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (pangeran KJatandur) yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal dengan masyarakat Madura dengan sebutan "nanggala" atau "salaga" yang ditarik oleh 2 ekor sapi. maksud awal diadakannya karapan sapi adalah untuk memperoleh sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah. Orang Madura memelihara sapi dan menggarapnya di sawah-sawah mereka sesegera mungkin. Gagasan ini kemudian menimbulkan adanya tradisi karapan sapi. Karapan sapi sesegera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya kususnya setelah menjelang musim panen habis. Karapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen.

Pelaksanaan karapan sapi dibagi menjadi 4 babak, yaitu: babak pertama, seluruh sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Pada babak ini semua sapi yang menang maupun yang kalah dapat bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya.

Babak kedua atau babak pemilihan kembali, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali, demikian sama halnya dengan sapi-sapi dikelompok kalah, dan pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang menempati kemenangan urutan teratas di masing-masing kelompok.

babak ketiga atau semi final, pada babak ini masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kolompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan untuk menentukan I, II dan III dari kelompok kalah.

Masjid Agung Sumenep



Masjid Agung Sumenep adalah masjid yang berada di Sumenep Madura. Berdiri menghadap alun-alun kota Sumenep yang dulunya disebut masjid Jamik yang menjadi penanda kota Sumenep. Masjid Jamik Panembahan Somala atau lebih dikenal dengan sebutan masjid Jamik Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid Jamik Sumenep saat ini telah menjadi salah satu landmark di Pulau Madura. dibangun pada pemerintahan Panembahan Somala, penguasa negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango.

Menurut catatan sejarah Sumenep, pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan pendukung Karaton, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga Karaton dan masyarakat. Masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun oleh keluarga karaton, dimana sebelumnya kompleks masjid berada tepat di belakang karaton yang lebih dikenal dengan nama Masjid Laju yang dibangun oleh Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI.

Arsitektur bangunan masjid sendiri secara garis besar banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa dan Madura. Salah satunya pada pintu gerbang pintu masuk utama yang corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan Tiongkok. Untuk bangunan utama masjid secara keseluruhan terpengaruh budaya Jawa pada bagian atapnya dan budaya Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid. Sedangkan interior masjid lebih cenderung bernuansa kebuayaan Tiongkok pada bagian mihrab.





Masjid ini juga dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya terpengaruh kebudayaan Portugis, minaretnya memiliki tinggi 50 meter terdapat disebelah barat masjid, dibangun pada pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma. Di kanan dan kiri pagar utama yang masih juga terdapat bangunan berbentuk kubah. Pada masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Aria Prabuwinata pagar utama yang cenderung masif dan tertutup, dimana semula dimaksudkan untuk menjaga ketenangan jema'ah dalam menjalankan ibadah diubah total berganti pagar besi

Untuk halaman masjidnya sendiri terdapat pohon sawo (bahasa Madura: Sabu) dan juga pohon tanjung. Dimana kedua pohon tersebut konon merupakan penghias utama halaman masjid karena dipercaya mempunyai filosofi sebagai berikut:


  • Sabu adalah penyatuan kata sa dan bu, sa mempunyai maksud shalat dan bu mempunyai maksud ja' bu-ambu
  • Tanjung adalah penyatuan kata ta dan jung, ta mempunyai maksud tandha dan jung mempunyai maksud ajhunjhung
  • Dan masjid sendiri bermakna pusat kegiatan dalam mensyiarakan agama Islam
jadi apabila dijabarkan kesemuanya mengandung maksud dan harapan sebagai berikut:

Shalat jhak bu-ambu. tandha ajhunjhung tenggi kegiatan agama Allah. Artinya: Shalat lima waktu janganlah ditinggalkan, sebagai tanda menjunjung tinggi agama Islam.

Kamis, 12 November 2015

Asta Tinggi Sumenep


Asta Tinggi adalah makam yang diperuntukkan khusus para Raja-Raja atau kerabat Raja yang terletak di daerah dataran tinggi Kebon Agung. Dalam bahasa Madura Asta Tinggi juga disebut Asta Raja yang bermakna makam para Pangradja (pembesar kerajaan) yang merupakan asta/makam para raja, anak keturunan beserta kerabat-kerabatnya yang dibangun sekitar tahun 1750 M.

Asta Tinggi memiliki 7 kawasan:
  1. Kawasan Asta Induk, terdiri dari: Kubah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Tirtinegoro (Bendoro Saod), Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Cikronegoro III (Pangeran Akhmad atau Pangeran Jimat) yang kubahnya tersebut berasal dari Pendopo Kraton Pangeran Lor/Wetan, Pangeran Pulang Djiwo yang kubahnya tersebut juga berasal dari Kraton Pangeran Lor/Wetan, Pemakaman istri-istri serta selir raja-raja Sumenep.
  2. Kawasan Makam Ki Sawunggaling konon diceritakan bahwa K. Saonggaling adalah pembela Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) pada saat terjadinya upaya kudeta/perebutan kekuasaan oleh Patih Purwonegoro.
  3. Kawasan Makam Patih Mangun.
  4. Kawasan Makam Kanjeng Kai/Raden Adipati Suroadimenggolo Bupati Semarang (mertua Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I).
  5. Kawasan Makam Raden Adipati Pringgoloyo/Moh. Saleh, dimana dia tersebut pada masa hidupnya menjabat sebagai Patih pada pemerintahan Panembahan Somala dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.
  6. Kawasan Makam Raden Tjakra Sudibyo, Patih Pensiun Sumenep.
  7. Kawasan Makam Raden Wongsokoesumo.
Arsitektur Makam

Arsitektur makam dalam kompleks ini sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan yang berkembang pada masa Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari penataan kompleks makam dan beberapa batu nisan yang cenderun berkembang pada masa awal Islam berkembang di tanah Jawa dan Madura. Selain itu pengaruh-pengaruh dari kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro, makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan makam Pangeran Pulang Djiwo.

Selain itu pengaruh arsitektur Eropa mendominasi bangunan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan makam Patih Mangun yang ada di luar asta induk. Dalam kawasan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, seluruh bangunannya dipengaruhi gaya arsitektur klasik, kolom-kolom ionic masih dipakai dibeberapa tempaqt termasuk juga pada kubah makamnya.

Gambar Keadaan Asta Tinggi






Senin, 09 November 2015

Tambak Garam di Sumenep

Di Sumenep Madura terkenal dengan pulau garam karena sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani garam. Salah satunya yang ada di kota Sumenep tepatnya yaitu Desa Pinggir Papas. Jika kalian pergi ke pinggir papas kalian akan disuguhi kanan kiri dengan bentangan tambak garam yang sangat luas seperti layaknya salju hehe. berikut ini gambar keadaan desa Pinggir Papas di Sumenep